INTOMEDIA

 

 

PEMAKNAAN MEDIA DI ANTARA TEKNOLOGI DAN BUDAYA
Sebuah Pameran Seni Intermedia di Galeri Soemardja, Bandung (28 April – 3 Maret 2017)
Tulisan pengantar untuk pameran Intomedia ini merupakan salah satu bentuk manifestasi awal dari riset akademis saya untuk memetakan definisi dan posisi seni intermedia dalam ruang lingkup institusi pendidikan, serta keterkaitannya dengan medan sosial dan budaya seni rupa di Indonesia. Sebagai seorang peneliti seni intermedia, saya menyadari bahwa sebelum proses pemetaan tersebut dapat dimulai perlu diciptakan sebuah spektrum pemahaman akan bentuk seni intermedia itu sendiri yang terdefinisi ulang saat diadaptasi ke dalam budaya Indonesia; tahapan-tahapan yang lumrah terjadi di dalam proses adaptasi wacana dan keilmuan yang sifatnya serapan. Istilah seni intermedia dalam konteks bentuk keseniannya memiliki variasi yang cukup luas, seni intermedia bisa berupa karya seni performans, karya seni rupa, dan bahkan bisa berarti metode kreatifnya – pernyataan ini relevan dengan tujuan dari seni intermedia yang adalah meleburkan batas antar bentuk-bentuk keseniannya itu sendiri1. Seni intermedia di Barat adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan praktik dan hasil karya seni yang secara konseptual berada di antara media yang sudah eksis sebelumnya2. Sedangkan seni intermedia di Indonesia adalah sebuah istilah yang lahir dari praktik dan wacana seni rupa berbasis interdisiplin antar media yang penyebarannya di Indonesia ditandai dengan masuknya produksi dan distribusi massal produk-produk hasil inovasi teknologi, baik analog maupun digital, yang dapat digunakan untuk menjadi medium berkesenian sejak era 90-an sampai sekarang. Seni intermedia adalah salah satu bagian dari technoculture yang berintegrasi dengan praktik dan wacana seni rupa Indonesia, yang dalam perkembangannya menciptakan disiplin keilmuan tersendiri. Tentu perkenalan publik seni rupa Indonesia dengan seni intermedia dimulai dari wacana dan praktiknya yang berkembang di ruang-ruang subkultur, misalnya komunitas Common Room yang menjadi sentral pengembangan seni dan budaya media baru di Bandung, HONF sebagai laboratorium yang mengintegrasikan seni media baru dengan teknologi dan sains di Yogyakarta, dan ruang rupa sebagai organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta yang suportif terhadap bentuk-bentuk seni eksperimental dan non-konvensional.

Dalam artikel seni rupa berjudul “Implosion” yang ditulis oleh Bambang Sugiharto di Majalah Trolley pada tahun 2001 – istilah seni intermedia dan media baru marak disebut sebagai hasil dari perkembangan teknologi digital dan pertumbuhan jaringan internet yang mengindikasikan fenomena terbaru dalam perkembangan seni rupa, khususnya di Bandung3. Salah satu manifestasi dari fenomena ini adalah festival Nu Substance di Bandung, sebuah gagasan dari komunitas Common Room yang diadakan satu tahun satu kali sejak tahun 2007 sampai terakhir di tahun 2012. Festival Nu Substance adalah festival seni dan budaya yang bertujuan untuk mendukung perkembangan media baru di Bandung, dimana setiap tahunnya festival ini mengemas tema-tema yang bervariasi – seperti ekologi, keragaman budaya, dan sebagainya – yang diintegrasikan dan direfleksikan secara kritis lewat penggunaan teknologi komunikasi dan media baru4. Manifestasi lain yang dapat ditemukan di luar kota Bandung adalah festival internasional OK. Video yang digagas oleh ruangrupa di Jakarta, dimulai di tahun 2003 setiap dua tahun sekali dengan konsentrasi pada perkembangan seni video di Indonesia. Pada tahun 2015, festival ini memperluas ruang lingkupnya sebagai OK. Video: Indonesia Media Arts Festival dengan bukan hanya menampilkan karya-karya berbasis waktu seperti video dan film, namun juga seni instalasi, seni pertunjukan, seni bebunyian, seni berbasis internet dan media sosial, serta seni berbasis audio-visual5. Namun terlepas dari perkembangan yang tercipta dari pergerakan komunitas-komunitas ini, dapat dinilai secara keseluruhan bahwa dinamika praktik seniman maupun kelompok seniman intermedia maupun media baru di Indonesia masih sangat eksperimental dan labil. Kemungkinan besar kondisi ini dikarenakan penggunaan media baru yang terintegrasi ke dalam proses penciptaan karya dengan akselerasi yang sangat cepat, sementara wacana pemahaman dan pemaknaannya tertinggal jauh di belakang. Krisna Murti mendefinisikan seni media baru sebagai seni hibrida yang lahir dari penemuan estetik manusia dengan penemuan teknologi informasi dan media pada zamannya6, dimana menurut Murti lemahnya kesadaran masyarakat terhadap ranah tersebut menunda praktik dan apresiasi terhadapnya sebagai bagian dari budaya visual, apalagi seni rupa. Pernyataan ini didukung dengan eksistensi seni media baru yang baru diekspos secara nasional sebagai bagian dari Biennale Jakarta 2006, dimana menurut Krisna Murti bahkan Biennale tersebut masih belum dapat memfasilitasi esensi dari budaya media baru yang memiliki bahasa, perilaku, realitas, norma dan hukumnya sendiri7.
Permasalahan wacana ini menjadi rumusan masalah dari riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB dalam penelitiannya yang bertajuk “Seni Intermedia dalam Konteks Pendidikan Seni Rupa”. Riset ini merupakan salah satu Program Penelitian SP-4 LPPM ITB di tahun 2004 yang menjadi awal dari pendirian Studio Seni Intermedia di Fakultas Seni Rupa dan Teknologi Bandung, sebagai bentuk respon dan solusi dari masuk dan berkembangnya praktik, wacana dan ilmu serapan berbasis media baru di Indonesia. Istilah seni intermedia terpilih menjadi tajuk karena istilah ‘intermedia’ yang merupakan singkatan dari ‘interdisiplin antar media’ dianggap cocok untuk mewakili objektif dari pendirian seni intermedia sebagai jalur minat yang dapat menjembatani disiplin ilmu seni dengan sains dan teknologi di Institut Teknologi Bandung. Sejak didirikan di tahun 2007, jalur minat seni intermedia diarahkan untuk dapat mengembangkan struktur kurikulum dan metode pengajaran yang integral dengan perkembangan teknologi informasi dan media. Jalur minat seni intermedia diharapkan dapat menghasilkan lulusan-lulusan dengan kecakapan medium berbasis teknologi digital, pendekatan berkarya yang interdisipliner serta inovatif, dan pola kerja yang responsif serta interaktif dengan publik8. Setelah hampir satu dekade berdiri, seni intermedia di institusi ini memang terus berkembang baik dari segi perkembangan kurikulum, metode pengajaran, jumlah peminat dan partisipasi serta pencapaiannya di ranah akademis maupun non-akademis. Namun terlepas dari perkembangan di struktur dan sistem pendidikannya, permasalahan wacana khususnya yang berkaitan dengan manifestasi dari interdisiplin antar media, baik dalam praktik penciptaan karya seni maupun wacana di dalamnya, masih belum terkuasai sampai sekarang.
Dalam memahami esensi dari permasalahan tersebut, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dimana permasalahan wacana media baru harus ditelaah dari perspektif technoculture di Indonesia. Kebutuhan ini yang menuntut saya untuk menemukan dan menelaah kembali eksistensi seni intermedia di luar institusi pendidikan. Kebutuhan ini juga yang membawa saya ke dalam irisan pertemuan dengan Bob Edrian, Riar Rizaldi dan Aditya Martodiharjo – yang pada akhirnya menjadi titik mula gagasan Intomedia. Intomedia adalah sebuah manifestasi penyelarasan praktik dan wacana seni intermedia di Indonesia dengan mengedepankan karya-karya dengan pemaknaan terhadap media sebagai intisarinya, baik dari segi proses penciptaan maupun hasil karya seninya. Bob Edrian sebagai kurator memilih kedua seniman Riar Rizaldi dan Aditya Martodihardjo berdasarkan pemilihan media, proses dan hasil kekaryaan mereka yang interdisipliner – praktik Riar dan Aditya dianggap dapat merefleksikan bentuk alternatif dari praktik kekaryaan berbasiskan media baru lainnya di Indonesia. Sementara bagi riset saya, praktik Riar dan Aditya ini menjadi sebuah objek baru yang memiliki potensi untuk menjadi katalis dari dinamika yang timpang antara praktik dan wacana seni intermedia. Melalui proses observasi dan diskusi yang padat, praktik Riar dan Aditya bertransformasi dari sekedar praktik berkarya berbasiskan media menjadi fragmenta yang berpotensi menggenapi kerenggangan eksistensi wacana dan praktik seni intermedia di medan sosial seni rupa Indonesia. Pernyataan ini akan dielaborasi secara lanjut lewat penelaahan yang terpisah antara praktik Riar dengan Aditya, untuk akhirnya dirumuskan bersama ke dalam konteks peran seni intermedia di dalam technoculture Indonesia.
Riar menemukan media digital sebagai entitas yang dapat menerjemahkan gagasannya akan komunikasi antar sistem, serta dinamika dan interelasi yang tercipta dari komunikasi tersebut. Riar memilih berbagai media dengan fungsi dan sistem yang berbeda, diposisikan untuk dapat menampilkan baik kualitas material maupun imaterialnya, lalu dihadapkan dengan satu sama lainnya untuk ‘berkomunikasi’ lewat citra gerak, cahaya, struktur bebunyian dan gestur spasial yang baru. Dari karya Riar, pengamat dapat memasuki ruang pemahaman terhadap media yang mencerahkan sekaligus rancu – bagaimana media yang sangat sering kita lihat, pahami dan gunakan di keseharian ternyata memiliki gestur yang asing saat diposisikan berbeda dari biasanya?  Bagaimana media yang biasa digunakan terpisah dari satu sama lainnya ternyata berpotensi untuk dimaknai baru sebagai sebuah kesatuan? Penyadaran semacam ini mengindikasikan pemahaman yang menyeluruh terhadap seni intermedia, dimana penggabungan antar media bukan menjadi sekedar pelengkap konsep maupun visualisasi karya melainkan esensinya. Penyadaran ini cukup relevan dengan apa yang disebut Cara Deleuze sebagai sensasi yang dirasakan pengamat dari citra-gerak (l’image mouvement) sebuah karya seni, saat pengamat dapat mendalami sensasi yang dirasakannya untuk melampaui lapisan artistik atau estetiknya maka akan muncul sebuah citra mental. Citra mental didefinisikan sebagai sebuah citra yang muncul dari hubungan antar medium yang pada akhirnya tidak lagi menggambarkan persepsi, afeksi dan tindakan, namun pikiran atau gagasan dari karya seni itu sendiri9.
Penggunaan media dalam praktik berkesenian Riar tidak dibatasi oleh spesifikasi media tertentu, karena esensi dari karya Riar adalah dialog yang tercipta dari praktik menggabungkan dua media digital atau lebih. Pemilihannya sendiri bukan muncul dari persoalan kebaruan maupun sejarah dari medianya, melainkan bagaimana konsep komunikasi dan jaringan yang tercipta, baik antar manusia dan medium digital maupun satu medium dengan medium lainnya, dapat terus menantang dan memperkaya wacana technoculture di zaman ini. Umumnya, media digital yang digunakan Riar bahkan dapat dikatakan bukan produk dari inovasi teknologi terbaru, Riar menggunakan TV LCD dan Camcorder yang fungsinya tidak lagi mutakhir dan potensial untuk menciptakan kebaruan yang sifatnya material maupun visual. Namun saat media ini dikomposisikan untuk saling merespon satu sama lainnya, gestur yang tercipta adalah suatu bentuk kebaruan yang bersifat imaterial, sebuah kebaruan yang menantang dan merubah cara pengamat memahami konsep materialitas dan imaterialitas dari teknologi digital itu sendiri. Pemahaman di tingkat ini relevan dengan gagasan remediasi yang dikembangkan oleh Marshall McLuhan di tahun 60-an, bahwa kebaruan dari sebuah medium adalah hasil dari proses apropriasi terhadap teknik, bentuk, dan signifikansi sosial dari media lainnya – dimana tujuan dari apropriasi ini adalah untuk memposisikan medium yang baru sebagai bentuk baru yang lebih hakiki10. Gagasan ini adalah inti dari riset Riar sebagai seniman bahwa setiap medium digital yang diproduksi memiliki konten dan sistem yang terhubung dengan media lainnya. Berangkat dari titik penemuan ini, Riar menciptakan sebuah praktik rekonstruksi yang dapat mentransformasi sistem yang tidak kasat mata dan bahasa yang integral dari media yang dipilihnya menjadi sebuah meta dalam penciptaan karya seni intermedia berbasiskan media digital.
Berbeda halnya dengan pemilihan medium dan praktik kekaryaan Aditya yang bermula dari pertemuannya dengan Lab Laba Laba, sebuah organisasi film eksperimental Indonesia berbasis laboratorium di Jakarta. Kiprah Aditya di organisasi ini terhitung singkat, dimulai di tahun 2015 sampai sekarang, Aditya memiliki peran sebagai pemegang kendali laboratorium Lab Laba Laba. Lab Laba Laba adalah salah satu dari 65 laboratorium film seluloid di dunia yang dapat memproses film 16mm yang merupakan bentuk andalan film eksperimental, berawal mula dari pertemuan antara sekelompok pencinta film dengan ratusan rol fim seluloid di gedung tua Perum Produksi Film Negara (PFN) – sebuah perusahaan berbasis laboratorium milik negara yang merupakan lanjutan dari perusahaan Java Pacific Film milik Albert Balink di tahun 193411. Ditemukannya artefak perfilman Indonesia, dari film seri Si Unyil sampai film drama propaganda Orde Baru tentang penumpasan G30S/PKI, menjadi titik awal dari reklamasi yang dilakukan Lab Laba Laba terhadap laboratorium film analog terbesar di Indonesia. Dibantu oleh para ahli film eksperimental yang tergabung di jaringan filmlabs.org12, Lab Laba Laba merevitalisasi laboratorium PFN beserta peralatan di dalamnya untuk kembali berfungsi, melakukan proses preservasi dan kategorisasi terhadap rol-rol film seluloid PFN, dan pada akhirnya mendapat izin resmi untuk menempati gedung PFN serta menggunakan peralatan di dalamnya untuk kepentingan studi, preservasi, maupun eksperimen proses penciptaan film analog dengan menggunakan pita seluloid 8 mm, 16mm dan 35 mm. Lab Laba Laba menghindari penggunaan teknologi digital sebagai batasan untuk tetap fokus di visinya untuk mendalami kompleksitas teknologi film analog dan merespon instrumentalisasi yang dilakukan terhadap artefak film analog untuk tujuan politis di Indonesia13.
Para anggota Lab Laba Laba sendiri memiliki kepentingan dan ketertarikan yang berbeda satu sama lainnya, di dalam organisasi ini Aditya memposisikan dirinya di Lab Laba Laba sebagai seorang seniman yang mendapatkan hak khusus untuk mengakses medium film analog lewat perannya sebagai pemegang kendali laboratorium. Meskipun konteks karya Aditya sendiri tidak memiliki irisan yang signifikan dengan aspek sosial, politik dan budaya PFN, namun reklamasi yang dilakukan Lab Laba Laba terhadap laboratorium film analog PFN sangat berpengaruh dalam karya Aditya. Pemilihan media analog dengan spesifikasi khusus, pendekatan berkarya yang sistematis dan teknikal, produksi karya berbasis laboratorium sampai distribusi karya yang sangat segmentatif – dapat dilihat bahwa karakter proses kekaryaan Aditya berbanding lurus dengan perkembangan keahlian profesinya di Lab Laba Laba. Karakter Lab Laba Laba yang interdisipliner, khususnya dengan ilmu teknik dan sejarah perfilman itu sendiri, berpengaruh terhadap kemampuan Aditya untuk mengartikulasikan medianya dengan sangat mendetail. Hal yang paling menarik dari kekaryaan Aditya adalah kemampuanya mendorong batasan-batasan media analog untuk akhirnya dapat menghasilkan citra dan dinamika gerak yang sesuai dengan visinya sebagai seniman. Kemampuan ini dihasilkan dari penguasaan Aditya terhadap tiga aspek utama dari media film analog, yaitu materialitas dari film analog yang membutuhkan pendekatan langsung, interaksi photo-mechanical yang menghasilkan referensi ontologis dan epistemologis akan citraan yang dihasilkan, dan kebutuhan media ini untuk dikuasai secara teknis dalam implikasi kreatifnya14.
Dalam buku Technoculture: The Key Concepts, Debra Benita Shaw menyatakan bahwa penggunaan teknologi di dalam ranah seni rupa maupun musik umumnya adalah sebuah usaha mensubversi fungsi dari teknologi itu sendiri. Shaw berpendapat bahwa dengan menunjukkan sisi teknologi yang berbeda dalam konteks pemahaman seni dapat merefleksikan relasi antara teknologi dan manusia yang dinamis dan bervariasi di dalam masyarakat15. Apabila pemahaman ini diaplikasikan terhadap technoculture Indonesia, maka penggunaan teknologi sebagai medium seni rupa di sini lebih merefleksikan potensi munculnya gagasan dan wacana baru yang penting bagi pendefinisian dan pemetaan technoculture di Indonesia. Praktik Riar yang subversif terhadap fungsi dan bentuk teknologi digital merefleksikan proses penciptaan karya yang konstruktif, baik terhadap pembentukan maupun pemahaman publik akan wacana interdisiplinernya. Sementara hubungan yang intens dan sistematis antara Aditya dan medianya menghasilkan karya yang inheren dengan pemahaman seniman terhadap media, sehingga keahlian teknis maupun konteks yang khusus tersebut dapat direpresentasikan oleh karyanya. Berdasarkan diskusi dan observasi secara langsung, kedua seniman ini menawarkan bentuk seni rupa yang baik konteks, praktik maupun hasil karyanya mengedepankan potensi interdisipliner dari media itu sendiri. Pameran ini adalah usaha untuk membawa praktik kekaryaan Riar dan Aditya ke ranah yang lebih responsif dan kritis terhadap perkembangan wacana seni intermedia Indonesia, dan di dalam kesempatan ini ranah tersebut adalah ruang institusi pendidikan seni rupa di ITB. Pameran Intomedia di Galeri Soemardja saya harapkan adalah salah satu riak awal dari pergerakan Riar dan Aditya sebagai seniman intermedia Indonesia di dalam ruang-ruang yang kondusif untuk keduanya dapat secara konsisten menghasilkan praktik dan wacana kekaryaan yang signifikan dalam pemetaan definisi dan posisi seni intermedia di Indonesia.

Bandung, 26 Februari 2017
Anis Annisa Maryam

Citation : Lihat artikel Intomedia di situs https://anisannisamaryam.com/2017/03/17/intomedia/

  1. Kaneda, Miki. 2012. The Unexpected Collectives: Intermedia Art in Postwar Japan. California: UC Berkeley. pp. 4
  2. Higgins, Higgins dalam Kaneda, Miki. 2012. The Unexpected Collectives: Intermedia Art in Postwar Japan. California: UC Berkeley. pp. 4
  3. Iskandar, Gustaff. 2005. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Praktik Sei Intermedia di Indonesia. Bandung: Bandung Center for New Media Arts. pp. 4-5
  4. Resmadi, Idhar. 2012. Nu Substance. Bandung: Common Room Networks Foundation. pp. 12-13
  5. Lihat profil OK. Video di situs web http://okvideofestival.org/web/id/profil-divisi/
  6. Murti, Krisna. 2009. Essays on Video Art and New Media: Indonesia and Beyond. Yogyakarta: IVAA. pp. 67
  7. Murti, Krisna. 2009. Essays on Video Art and New Media: Indonesia and Beyond. Yogyakarta: IVAA. pp. 33-36
  8. Lihat profil Studio Intermedia di situs web http://senirupa.fsrd.itb.ac.id/studio-seni-intermedia/
  9. Suryajaya, Martin. 2016. Sejarah Estetika. Jakarta: Gang Kabel. pp. 787-788
  10. Lister, Martin. Dovey, Jon. Giddings, Seth. Grant, Iain. Kelly, Kieran. 2003. New Media: A Critical Introduction. New York: Routledge. pp. 82
  11. Lihat artikel A Year of Lab Laba Laba: On Choice and Knowledge di situs web http://lablabalaba.blogspot.co.id/2015/07/a-year-of-lab-laba-laba-on-choice-and.html
  12. Lihat artikel Kitchen Sink Cinema: Artist-Run Film Laboratories di situs web http://www.filmcomment.com/blog/artist-run-film-laboratories/
  13. Lihat artikel On Lab Laba Laba (Spider Lab) And The Playful Reincarnation of The Propaganda Films of New Order Era Indonesia di situs web http://desistfilm.com/on-lab-laba-laba-spider-lab-and-the-playful-reincarnation-of-the-propaganda-films-of-new-order-era-indonesia/
  14. Barnett, Daniel. 2008. Movement as Meaning in Experimental Film. New York: Rodopi. pp. 110
  15. Shaw, Debra Benita. 2008. Technoculture: The Key Concepts. New York: Oxford. pp. 145

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s